1/17/2013

Tahapan Dakwah Rasulullah



Dakwah merupakan satu misi yang harus dilakukan oleh setiap muslim yang sudah terkena kewajiban tersebut. Karena berdakwah merupakan salah satu bukti dari konsekuensi menguswah kepada Rasulullah.
Dakwah secara bahasa berasal dari kata da’a, yad’u, da’watan, yang berarti ajakan, seruan, undangan, atau panggilan. Dakwah bukan sekadar menyampaikan ayat-ayat Allah, namun juga, sekaligus mengajak orang-orang yang masih berada dalam sistem bathil untuk bergerak menuju kehidupan sistem yang haq. Walaupun demikian, dalam berdakwah ada yang namanya metode, tahapan, etika, dan aturan lainnya yang perlu diperhatikan, sehingga apa yang dilakukan benar sesuai dengan apa yang dicontohkan Rasulullah (Kusnawan, 2009: 2).
Ahmad Amrullah (1996 : 66) membagi beberapa tahapan dakwah menjadi tiga tahapan. Pertama, tahap pembentukan (takwin), Kedua, tahap penataan (tandhim), dan Ketiga tahap perpisahan atau tahap pendelegasian amanah dakwah kepada generasi penerus. Pada setiap tahapannya memiliki karakteristik kegiatan yang relevan dengan masalah yang dihadapi. Dalam tahapan ini dapat dinyatakan ada beberapa model dakwah sebagai proses perwujudan realitas Islam.
1.        Model Dakwah dalam Tahap Pembentukan (Takwin)
Pada tahap ini kegiatan utamanya adalah dakwah bil lisan sebagai ikhtiar sosialisasi ajaran tauhid kepada masyarakat. Interaksi Rasulullah dengan umatnya mengalami ekstensi secara bertahap. Yakni kepada orang-orang terdekat, kemudian kepada masyarakat umum, sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Sasarannya, bagaimana supaya terjadi internalisasi Islam dalam kepribadian mad’u. Kemudian apa yang telah diterima dan dicerna dapat diekspresikan dalam ghirah dan akidah.
Pada tahapan takwin, hakikatnya Rasulullah saw sedang melaksanakan dakwah untuk pembebasan akidah masyarakat dari sistem yang dipersonifikasikan dalam bentuk berhala (asnam) menuju sistem akidah yang hanya mengikatkan diri dengan memurnikan ketaatan hanya kepada Allah swt.
Paling tidak, ada dua hal yang dibangun Rasulullah dalam tahap ini. Pertama, Rasulullah meletakan tata sosial Islam dalam bentuk akidah, ukhuwah islamiyah, ta’awun, dan shalat. Demikian juga tauhid, telah menjadi instrumen sosiologis dalam mempersatukan para sahabat dan jamaah muslim lainnya. Kedua, Rasulullah membangun jamaah Islam swadaya yang akan menjadi kegiatan dakwah di Yatsrib. Hal ini dibangun ketika Rasulullah mengadakan perjanjian bai’atul Aqabah I dan II. Inilah sebuah jembatan yang akan membuka perspektif dan strategi baru dakwah Nabi saw. Karena bai’at merupakan prinsip strategis dari pengorganisasian Islam. Itu sebabnya, para sahabat rela mengganti nyawa, pikiran, dan waktunya demi Islam, karena sudah terikat perjanjian aqabah ini.
2.      Model Dakwah dalam Tahap Penataan (Tandzim)
Tahapan tandzim ini merupakan bentuk dari institusionalisasi Islam secara menyeluruh. Tahap ini diawali dengan berhijrah. Dari segi strategi dakwah, hijrah dilakukan ketika tekanan kultural atau stuktural sudah sedemikian mencekam, sehingga jika tidak dilaksanakan hijrah, dakwah dapat mengalami involusi kelembagaan dan menjadi lumpuh.
Setelah Nabi saw diperintahkan hijrah ada beberapa langkah Nabi saw yang mendasar yang perlu diperhatikan. Pertama, membangun masjid Quba dan Nabawi di Madinah. Kedua, mengikat ukhuwah islamiyah antara Muhajirin dan Anshar, dan ketiga, membuat “Piagam Madinah” yang disepakati berbagai suku termasuk kaum Yahudi yang tinggal di Madinah.
Tiga peristiwa dakwah yang strategis itu memberikan kerangka kerja dakwah Islam. Berpijak dari masjid, Nabi saw menata dan mengembangkan masyarakat Islam. Kemudian, untuk memperkuat basis komunitas muslim awal, Rasulullah mempresentasikan kekuatan ukhuwah islamiyah di Madinah dengan menyatukan ikatan persaudaraan antara kaum Muhajirin dan Anshar. Setelah terbangun kekuatan, Nabi saw menciptakan landasan kehidupan politik Madinah dengan mengadakan perjanjian politik dengan semua kekuatan sosial yang ada.
3.      Model Dakwah dalam Tahap Pelepasan dan Kemandirian (Taudi’)
Pada tahap ini, umat Islam telah siap menjadi masyarakat mandiri. Karena itu  umat Islam dapat dilepas secara manajerial, untuk melanjutkan perjuangan dakwah sebagaimana yang telah dipolakan oleh Rasulullah

Referensi :
Amrullah Ahmad, 1996, Dakwah Islam Sebagai Ilmu Sebuah kajian Epistemologi dan Stuktur Keilmuan Dakwah, Fakultas Dakwah IAIN Sumatera Utara
Aep Kusnawan, 2009, Ilmu Dakwah [Kajian Berbagai Aspek], Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan tinggalkan jejak berupa komentar :